KAMPAR, AuraKeadilan.com — Di tengah berkembangnya sektor pariwisata alam di Kabupaten Kampar, Ishak mencoba menghadirkan konsep wisata yang memadukan keindahan alam dengan kearifan lokal melalui Bukit Sikumbang Park.
Destinasi wisata yang berdiri sejak 28 September 2024 itu menawarkan kolam renang air alami (bukit sikumbang) hingga tradisi mandi uap khas Kampar yang dikenal dengan sebutan “batange”.


Menurut Ishak, ide mendirikan Bukit Sikumbang Park berangkat dari potensi sumber daya alam yang tersedia di kawasan tersebut, terutama sumber mata air alami yang dinilai layak dikembangkan menjadi tempat wisata keluarga dengan biaya terjangkau.
“Di sini ada sumber daya alam berupa air yang potensial. Saya melihat masyarakat juga membutuhkan tempat bersenang-senang yang murah dan nyaman untuk keluarga,” ujar Ishak, Sabtu (23/5/2026).
Ia mengatakan, konsep wisata yang dibangun sengaja dibuat ramah bagi masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Dengan biaya yang relatif murah, pengunjung sudah dapat menikmati fasilitas wisata bersama keluarga.
“Dengan uang Rp50 ribu sampai Rp100 ribu, satu keluarga sudah bisa mandi, makan, dan bersantai di sini,” katanya.
Bukit Sikumbang Park buka setiap hari mulai pukul 08.00 WIB hingga sore hari, dengan biaya tiket masuk Rp 15.000 (dewasa) dan Rp 10.000 (anak – anak). Menurut Ishak, jumlah pengunjung pada hari biasa maupun akhir pekan relatif stabil karena tingginya minat masyarakat terhadap wisata alam.
Selain kolam renang air alami, salah satu daya tarik utama di lokasi tersebut adalah fasilitas mandi uap tradisional atau “batange”. Ishak menjelaskan, tradisi itu merupakan budaya lama masyarakat Kampar yang dahulu digunakan untuk menjaga kesehatan ibu setelah melahirkan, perawatan calon pengantin, hingga pengobatan tradisional.
“Batange ini warisan budaya masyarakat Kampar. Dulu dipakai untuk kesehatan ibu melahirkan, calon pengantin, sampai mengobati badan yang kurang sehat,” ujarnya.
Ia menilai, tradisi tersebut mulai ditinggalkan sejak era modernisasi dan globalisasi. Namun, kebutuhan masyarakat terhadap terapi mandi uap sebenarnya masih cukup tinggi, terutama bagi kalangan ekonomi menengah ke bawah yang sulit mengakses fasilitas sauna modern di hotel atau pusat kebugaran.
Karena itu, Ishak memilih mempertahankan konsep tradisional dalam pengelolaan batange, mulai dari penggunaan rempah-rempah alami hingga proses perebusan menggunakan kayu bakar.
“Bahan-bahannya sebagian besar dari alam sekitar Kampar. Ada yang ditanam sendiri, ada juga yang dibeli dari masyarakat kampung,” katanya.
Menurut dia, penggunaan kayu bakar juga menjadi bagian dari upaya membantu ekonomi masyarakat sekitar karena kayu diperoleh dari warga setempat.
“Kalau pakai gas atau listrik, masyarakat sekitar tidak ikut merasakan manfaat ekonomi dari usaha ini,” ujarnya.
Di sisi lain, Ishak berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian lebih terhadap pengembangan sektor pariwisata di Kampar, khususnya terkait infrastruktur menuju kawasan wisata.
“Intervensi pemerintah terhadap infrastruktur wisata itu mutlak. Jalan, pembinaan, sampai akses permodalan perlu diperhatikan,” katanya.
Ia optimistis sektor pariwisata Kampar mampu berkembang seperti daerah lain apabila dikelola secara konsisten dan visioner.
Menurut Ishak, pengelola wisata juga harus membangun budaya disiplin dan kepedulian lingkungan kepada pengunjung sejak dini. Di Bukit Sikumbang Park, pengunjung, terutama anak-anak, dibiasakan menjaga kebersihan dan membuang sampah pada tempatnya.
“Kalau anak-anak sudah dibiasakan disiplin dan menjaga kebersihan sejak kecil, nanti itu akan terbawa sampai besar,” kata Ishak.

