BANGKINANG KOTA, AuraKeadilan.com– Pemerintah Kabupaten Kampar melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Kampar resmi meluncurkan pilot project Integrasi PTM GO-CARE dan GAHOP Insight PTM sebagai langkah strategis dalam memperkuat pengendalian penyakit tidak menular (PTM), Rabu (15/4/2026).
Program ini menjadi tonggak baru transformasi layanan kesehatan di Kampar, dengan pendekatan yang lebih terarah, berbasis data, serta melibatkan kekuatan komunitas. GO-CARE (Gerakan Optimalisasi Cegah dan Kendalikan Risiko) difokuskan pada penguatan manajemen pasien, sementara GAHOP (Gerakan Analisis Health Outcome dan Profiling) menitikberatkan pada pemanfaatan data sebagai dasar pengambilan kebijakan.


Peluncuran yang digelar di Aula Dinas Kesehatan Kampar ini dihadiri pimpinan, tenaga kesehatan, serta peserta dari lintas program dan Puskesmas.Kegiatan ini juga menghadirkan narasumber dari Dinas Kesehatan Provinsi Riau dan PERSAKMI Riau untuk memperkuat strategi implementasi di lapangan.
Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kampar, dr. Imawan Hardiman, Sp.KK, menegaskan bahwa tantangan pengendalian PTM saat ini bukan hanya pada deteksi dini, tetapi memastikan pasien tetap terpantau hingga kondisinya terkendali.
“Ini bukan tentang menambah program baru, tetapi bagaimana mengoptimalkan yang sudah ada agar lebih berdampak,” ujarnya.
Selama ini, program PTM lebih banyak berfokus pada skrining dan deteksi dini. Namun pendekatan tersebut dinilai belum cukup menjawab tantangan di lapangan, terutama dalam menjaga kesinambungan perawatan pasien. Melalui integrasi GO-CARE dan GAHOP, Dinkes Kampar mulai menggeser pendekatan menuju pengelolaan pasien secara berkelanjutan, berbasis data dan wilayah.
“Data hasil skrining yang selama ini terkumpul akan diolah menjadi profil risiko masyarakat, sehingga intervensi kesehatan bisa dilakukan lebih tepat sasaran,” ujarnya.
Selain berbasis data, keberhasilan program ini juga sangat bergantung pada peran komunitas, mulai dari kader kesehatan, bidan desa, hingga dukungan pemerintah desa dan lintas sektor. Sebagai langkah awal, wilayah kerja Puskesmas Sawah ditetapkan sebagai lokasi pilot project, dengan mempertimbangkan kesiapan wilayah dan kebutuhan intervensi berbasis data.
“Sebagai bentuk keseriusan, seluruh peserta menandatangani komitmen bersama untuk mendukung implementasi program. Kolaborasi lintas sektor dan kejelasan peran menjadi kunci dalam pelaksanaan ke depan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, sejumlah langkah strategis juga telah disiapkan, seperti penguatan data berbasis desa, digitalisasi data lapangan, hingga peningkatan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan. Melalui program ini, masyarakat tidak hanya mendapatkan layanan deteksi dini, tetapi juga pendampingan hingga kondisi kesehatan benar-benar terkontrol.
“Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat, menekan angka kesakitan, serta mendorong produktivitas warga dalam lingkungan yang lebih sehat. Ke depan, program ini ditargetkan menjadi model percontohan pengendalian PTM berbasis data dan komunitas di Kabupaten Kampar,” pungkasnya.(Adv)

