Jejak Pengabdian Zulmansyah Sekedang: Inspirasi yang Tak Pernah Padam

Akhirnya, sosok figur senior yang selama ini saya kagumi itu telah tiada.

Pagi itu, Sabtu (18/04/2026), suasana masih diselimuti ketenangan selepas Subuh. Seusai menunaikan salat berjamaah di Masjid Al Muhajirin, Desa Salo, Kecamatan Salo, Kabupaten Kampar, saya pun pulang dengan langkah ringan. Seperti kebiasaan setiap hari, setibanya di rumah, saya langsung mengaktifkan telepon genggam yang sejak malam sengaja dimatikan.

Rutinitas saya sederhana: membuka dan menelusuri informasi terbaru di grup WhatsApp PWI Riau. Namun pagi itu terasa berbeda. Bukan kabar kriminal atau isu korupsi yang menyambut, melainkan sebuah berita duka yang mengguncang hati.

Informasi itu dibagikan oleh seorang rekan, Zulmiron, yang dikenal aktif di grup. Sekilas, saya hampir tak percaya. Saya membacanya berulang kali, mencoba memastikan bahwa apa yang saya lihat bukanlah kesalahan. Untuk menghilangkan keraguan, saya langsung menghubunginya.

Dari ujung telepon, kabar itu dipastikan kebenarannya: Zulmansyah Sekedang telah berpulang ke rahmatullah pada Sabtu dini hari, sekitar pukul 00.05 WIB, di RS Budi Kemuliaan, Jakarta.

Sejenak, dunia terasa hening.
Usai melantunkan doa dan menghadiahkan bacaan Al-Qur’an untuk almarhum, ingatan saya melayang pada sosok beliau, seorang pemimpin yang tak hanya memberi arahan, tetapi juga menghadirkan inspirasi dan pelajaran hidup.

Pertemuan pertama kami terjadi di sebuah hotel di Pekanbaru. Saat itu, beliau menyampaikan niatnya untuk maju dalam Konferensi Provinsi (Konferprov) PWI Riau tahun 2017 di Pelalawan. Dengan penuh hormat, saya menyampaikan ketidaksetujuan, mengingat saat itu beliau masih menjabat sebagai Ketua SPS.

Namun beliau tetap menghargai sikap saya, sebuah hal yang hingga kini saya kenang sebagai cerminan kedewasaan beliau dalam berorganisasi.

Waktu berlalu. Pada Konferprov PWI Riau 2023 di Bengkalis, beliau kembali meminta dukungan. Sekali lagi, saya harus menyampaikan sikap berbeda, karena komitmen daerah telah kami tetapkan. Namun di luar dugaan, setelah terpilih sebagai Ketua PWI Riau, beliau justru merangkul saya.

Sebuah panggilan telepon datang. Dengan nada hangat, beliau mengajak saya bergabung dalam kepengurusan PWI Riau, menepati janji yang pernah diucapkannya. Sikap itu menunjukkan bahwa bagi beliau, perbedaan pilihan bukanlah penghalang untuk tetap menghargai seseorang.
Di bawah kepemimpinannya, PWI Riau menunjukkan dinamika yang hidup. Keberanian beliau kembali terlihat saat maju sebagai kandidat Ketua Umum PWI Pusat. Dalam forum besar tersebut, nama beliau bersanding dengan tokoh-tokoh nasional lainnya.

Meski belum meraih posisi tertinggi, langkah beliau justru menjadi penentu arah organisasi. Dengan kebijaksanaan yang dimiliki, beliau ikut mengantarkan kepemimpinan nasional melalui keputusan strategis yang diambilnya.

Namun perjalanan organisasi tidak selalu mulus. PWI Pusat sempat dilanda dinamika yang cukup berat. Dalam situasi tersebut, beliau kembali hadir sebagai sosok pemersatu. Melalui konferensi luar biasa, beliau dipercaya mengemban amanah sebagai Sekretaris Jenderal PWI Pusat, sekaligus membuka ruang bagi kader daerah untuk berkontribusi di tingkat nasional.

Dari perjalanan itu, saya melihat satu hal yang begitu kuat dalam diri beliau: komitmen. Komitmen terhadap organisasi, terhadap persahabatan, dan terhadap nilai-nilai kepemimpinan yang bijaksana.

Dalam hati, pernah terbersit harapan agar suatu saat beliau memimpin PWI di tingkat tertinggi. Namun takdir berkata lain.

Pagi itu, harapan tersebut luruh bersama kabar duka yang datang begitu tiba-tiba.

Kini, yang tersisa adalah kenangan, pelajaran, dan jejak inspirasi yang tak akan pudar.

Selamat jalan, Abang terbaik. Dari engkau, saya belajar arti komitmen, keteguhan prinsip, dan pentingnya menjaga optimisme dalam setiap langkah.

Al-Fatihah untuk bang Zulmansyah Sekedang.

Semoga Allah SWT menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Nya, dan segala pengabdian beliau menjadi amal jariyah yang tak terputus. Semoga beliau ditempatkan bersama hamba yang diridho’i Allah dan dimasukkan dalam Surga Nya Allah.

Penulis: Adi Jondri Putra

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *